DI AHIR SENJA
Sore itu begitu cerah
langit di februari mulai tampak memerah. Selepas pulang kuliah di tepi sebuah
danau taman kota, aku singgah, dan ku dapati dia dan sepupunya telah terlebih
dahulu berada disitu . Menunggu kami.
Pertemuan ini telah kami rencanakan ada yang inginku bicarakan pada gadis itu. Waktu tak serta merta
mempersilahkan aku dengannya segera berdialog, ada obrolan lain yang mengganggu
dan menyita waktu kami, karena kedatangan teman kami yang tak tahu menau pasal
perjanjian ini ikut bergabung, berselang beberapa menit karena merasa tidak enak dan terkesan mengganggu ia
mengundurkan diri, pergi meninggalkan aku dan temanku yang adalah pacar dari
sang sepupu dari gadis itu.
Berselang sepuluh menit
kedepan, waktu dan keadaan mempersilahkan aku dan dia berdialog dengan leluasa.
Sore di hari sabtu itu tiba-tiba mulai terasa sendu meski keadaan saat itu
sang surya memancarkan cahaya yang
membakar langit semesata di ufuk peraduannya sana. Angin yang bertiup dari danau
menyapu tubuh gerah kami. Pembicaraan kami diawali dengan basabasi sebelum
akhirnya aku mulai berbicara serius menanyakan perihal rasa sesak yang membuat
aku tidak tidur tadi malam.
"Aku sudah tahu semuanya dari Ani
sepupumu itu, perihal keinginan orang tua
mu yang terkesan menjodohkanmu dengan Mas Galih, pertanyaannya kenapa Sari dari
dulu gak ada bilang? kalau ada seseorang yang juga memperjuangkanmu, dan
nyatanya dia lebih menjamin masa depanmu"
Gadis itu menarik nafas perlahan dan
mulai bercerita " ini bukan keinginanku, ini keinginan Mama yang khawatir
kalau dia tak sempat melihat aku menikah"
Kemudian ceritanya
bergulir bergitu deras dan aku menjadi pendengar yang baik yang sesekali
menghela nafas karena kenyataan begitu menyesakan.
Dua minggu yang lalu
aku sempat miskomikasi dengan Sari
karena merasa tidak enak hati perihal dugaanku saat berjauhan begitu berlebihan
merasa ada sesuatu yang membuat perubahan sikap Sari. Aku berpikir yang
tidak-tidak kalau Sari memilih kembali kemantan kekasihnya yang nyatanya telah
pulang dari berkuliah di Pekanbaru. Maka saat itu aku mencoba sadar diri dan
perlahan tidak lagi menghubungi dan Sari pun juga tidak lagi menghubungi.
Sejagat sosial media ku tutup untuknya.
Hari-hari yang ditempuh suguh kukunyah dengan amat sangat tidak renyah,
aku gundah.
Anggap saja menghilangku adalah sebuah
usaha mempersilahkanmu kembali padanya
Ternyata selama penghilangan ku di masa
libur kuliah itu, Mamanya Sari mengalami sakit. Sari adalah anak sulung dari
empat bersaudara. Kakak dan abangnya sudah menikah semua dan telah punya anak.
Dari sakit itu Mama merasa khawatir kalau anak bungsunya tidak menikah jelang
izroil mengetuk pintu rumahnya.
Ayahnya Sari telah meninggal sedari ia
masih kecil, dia lebih dekat dengan sang Ayah ketimbang sama Mama dia adalah
yang paling kehilangan saat sang Ayah meninggalkanya
untuk selamanya.
Andai saja Ayah masih ada
"Sari, Mama mau lulus kuliah atau
sebelum lulus kuliah ini kamu menikah sama
Galih"
"Ma, Sari gak ada perasaan sama
dia. Dulu pas Sari mulai untuk menerimanya, dia malah pacaran sama wanita
lain"
"Tapi sekarangkan tidak lagi, Mama
yakin dia mau menikahimu. Lagipun dia sudah jelas bibit bobotnya dan Mama sudah
akrab sama keluarganya di tambah dia adalah lelaki dewasa dan sudah punya
pekerjaan"
" tapi Ma.."
" pokoknya kamu harus sama Galih,
kalau bukan sama Galih, Mama gak mau mengurusi pernikahan kamu kelak"
Sari semakin kalut dan
tak tahu lagi harus berbuat apa, dengan berat hati ia mencoba menuruti apa
maunya Mama. Benar saja, rasa tidak nyaman itu ada, pikirannya melayang
kepadaku yang menghilang tak tahu kabar dan lenyap ditelan jarak.
Aku yang merasa semakin
bersalah karena menghilang tanpa alasan, dua minggu berselang aku mencoba
mengumpulkan semua keberanian dan menimbang nimbang semua kemungkinan dan
konsekuensi yang akan kuterima. Malam itu aku mencoba menghubungi Sari,
beberapa kali aku menelponnya dan nyatanya tidak berbalas, lagi-lagi aku
berpikir yang tidak tidak. Aku mengira kalau Sari sengaja tidak menganggkat
teleponku karena berbagai kemungkinan. Aku gusar.
Sepulang dari Surau
bakda subuh itu, ku dapati dua
panggilan tak terjawab dari Sari
terpampang dilayar hp ku. Aku tak buru-buru menelepon balik dan ternyata
tak lama setelah itu ada panggilan masuk dari Sari yang dengan degub jantung
yang beberapa detik terlebih dahulu ku stabilkan sebelum akhirnya perlahan ku angkat.
Dari itu aku tahu,
sekarang Sari lagi sedang tidak baik-baik saja ia di serang demam tinggi dan
beberapa komplikasi penyakit ringan lainnya seperti batuk, pusing dan
sebagainya. Pagi itu perlahan suaranya yang perau kudengar di seberang sana
sanggup menepis kegundahanku dan mengembalikan ketenanganku. Dan dari situlah
kami sama-sama kembali mengutarakan rindu.
Masih dalam bulan februari dua ribu
sembilan belas yang baru saja lahir,
perlahan satu persatu permasalahan hidup yang membuat aku kalut
terselesaikan. Tepatnya di sebuah sore di hari awal kami masuk kuliah, aku
meminta Sari menjumpaiku di tepian danau taman kota ada yang inginku bicarakan
secara langsung kepadanya. Setibanya di tempatku keadaan mempersilahkanku
untuk bebicara denganya dan sepupunya
menepi menunggi obrolan kami usai.
Dalam obrolan itu ku utarakan rasa
bersalahku dan aku meminta maaf perihal egoku yang berlebihan. Waktu itu
tanggal jatuh pada februari ke enam belas dan aku memberikan sebuah bingkisan
sederhana berisikan bunga mawar hijau, coklat dan selembar surat yang
kuselipkan perihal permintaan maaf di akhir kalimat tertulis dengan huruf
corier new berukuran 10 (agak kecil dari yang lain)' percayalah ni
bukan kado valentine, tapi tak apa-apalah sekalian saja. Biar pernah '
***
Senja di sore februari
ini semakin matang, tampak cerah dan megah bayang-bayang di bagian barat mulai
menjalar dan magrib sebentar
lagi datang. Kami
masih di tempat yang sama, hujan turun di tepi sudut mata indahnya,dengan bola
mata yang dihiasi setitik hitam kecil bak tahi lalat yang merupakan salah satu ciri unik darinya yang ku sukai
"Ya, semua yang diceritakan Ani itu
benar. Aku yang salah, maaf"
Aku menghela nafas berat
Kemudian ku utarakan
panjang perihal aku yang belum bisa berbuat apa-apa belum sanggup menjanjikan
masa depan untuknya, maka dengan berat aku berkata. "Aku tidak
mengekangmu, terserah langkah yang mana yang mau kamu ambil, pilihan yang jelas
telah menghampirimu, aku sanggup pergi demi kamu, aku melepaskanmu bukan bearti
aku tidak menyanyangimu sepenuh hati, bagiku jatuh cinta adalah hal yang sulit
apalagi ketika harus melupakannya dengan tiba-tiba. Terima kasih untuk warna
yang kamu berikan dan maaf jika kehadiranku hanya mengganngumu memberikan warna
abu-abu perlahan kelam. Daripada aku jadi benalu dalam hidupmu dan hubunganmu
juga keluargamu biarlah aku yang berlalu"
"Kamu tidak salah, aku yang harus
meminta maaf"
Ku tarik nafas yang semakin padat di
penuhi sesak. seketika pandangankupun beralih pada semburat jingga di ufuk
sana, sebuah senja yang indah yang dahulu pernah Sari minta untuk bisa
melihatnya bersamaku, dan hari ini kami bisa melihatnya bersama. Janjiku tunai.
"Coba lihat senja itu" Sari menoleh " anggap itu senja pertama dan terakhir
yang pernah kita nikmati bersama"
Bola mata indahnya itu basah mendengar
penuturanku. kenyataan begitu cepat
memisahkan kami, kisah kami baru akan
merekah tetapi hari ini langit februari jadi saksi bahwa kisah seperti ini
tidak hanya ada di dalam fiksi tetapi benaran ada di didunia nyata, dan hari
ini kisah kamipun sudah. Adzan bergema memecah sejagat cakrawala di Magrib yang
baru saja tiba. Tirai hitam di panggung dunia ini mulai membentang semua
menutup episode-episode pada hari ini.
Komentar
Posting Komentar