CERPEN : GELARKU AL- QATRAZ
Gelarku
Al-Qatraz yang berasal dari sebuah nama pulau bekas penjara paling keras dan
menyeramkan di dunia yang berada di tengah lautan, begitulah para begundal jalanan dan para preman pasar memberikan julukan itu kepadaku, karena aku
tidak takut dengan siapapun dengan penjara seperti apapun. Aku tidak pernah
lagi membuat identitasku dengan nama yang diberikan orang tuaku dulu, dan
rasanya memang tidak cocok untuk seorang aku memakai nama Muhammad Ali yang
pada hakikatnya semua orang tahu bahwa nama itu terlalu suci untuk seorang
penjahat sepertiku.
Tahun
dua ribu di awal bulan maret aku akhirnya tertangkap dan di masukan ke dalam penjara
atas segala kejahatan yang telah aku lakukan, banyak dan bermacam-macam. Aku
masih terbilang beruntung pihak keluarga korban tidak menginginkanku di hukum
mati tetapi hanya di hukum tujuh belas tahun dan denda sekian juta, tetapi
sebagai seorang preman aku hanyalah preman aku tidak memiliki tabungan atau
harta yang aku kumpulkan, semua sudah habis aku poya-poyakan, karena aku tak
mampu membayar denda itu akhirnya masa
tahananku di tambah tiga tahun.
Aku
memang kejam, aku tak pikir panjang dalam menjalankan kejahatanku. Mulai dari
membegal, mencopet dan sungguh begitu banyak lagi kejahatan ku.
Hidupku yang gelap
dimulai sejak saat itu, semenjak aku kecewa dengan kenyataan hidup yang begitu
pahit sehingga aku tidak lagi mempercayai sosok tuhan dalam hidupku, sungguh
aku benci dengan segala hal yang mengagungkan tuhan dan ritual keagamaan
apapun. Sungguh walaupun aku ceritakan pahit yang sebenar pahit hanya aku yang
tahu persis rasanya.
Pada
dasarnya aku sudah mencoba bersyukur dan perlahan menjadi seorang insan yang
taat terhadap agama yang di wariskan oleh Abah ku, agama yang menjadi mayoritas
di negeri ini. Walaupun kami hanya hidup berdua sementara saudara dan dan ibuku
beberapa tahun lalu menjadi korban dari tragedi tahun runtuhnya orde lama,
hanya Abah dan aku saja yang selamat.
Tahun
berganti hidupku mulai pulih dari kekelaman itu, aku mulai menerima kenyataan,
menjadi pemuda yang tumbuh dalam linkungan yang relegiaus aku juga pernah
merasakan sekolah, itulah mengapa aku bisa menuliskan cerita ini.
Tetapi
akhirnya aku benar-benar benci dengan kenyataan bahkan dengan kehidupanku
sendiri. Sini aku ceritakan pada suatu subuh di lorong gang aku mendapati
Abahku meninggal dunia di tangan seorang pemuka agama, dari situlah aku mulai
membenci semua hal yang berbau penghambaan, tidak ada hamba yang baik, cuma ada
hamba-hamba yang pura-pura baik, semua manusia sama, manusia itu jahat. Bahkan
untuk makan saja harus membunuh walaupun tidak membunuh manusia tetapi nyatanya
membunuh ciptaan tuhan yang lainnya seperti hewan dan tumbuhan.
Maka
atas kekecewaan itu dan atas kebodohan pemikiranku, aku menganggap semua
manusia tidak ada salahnya untuk menjadi seseorang yang terang-terangan
menunjukan sipat aslinya sebagai penjahat.
Semenjak
aku dimasukan kepenjara atas pembunuhan yang aku lakukan terhadap seorang
pelacur, aku akhirnya mendekam.
Di
penjara, lagi-lagi aku berjumpa dengan para bagundal yang tampaknya tidak
senang atas kedatangan ku, aku awalnya tidak mau mencari masalah aku mau
tenang, tetapi mereka memancing harimau dalam tubuhku sehingga kami berkelahi,
aku sendiri dan para bagundal itu empat orang, mereka bukan tandinganku, mereka
penjahat junior para preman amatir, sementara aku sudah di tempah keras sejak
aku remaja pengalaman telah membuat aku setangguh ini.
Tetapi
akibat dari perkelahian itu aku di pindahkan oleh sipir penjara yang berbadan
Kekar kesebuah tempat yang katanya sangat angker dan sunyi,melewati
lorong-lorong yang bau kotoran kelelawar masuk ke bagian bawah bangunan
akhirnya ada secercah cahaya di dalam sebuah lorong itu dan aku di kurung di
dalam penjara paling tidak di inginkan oleh semua penjahat sepertiku tetapi apa
dayaku aku harus menghuni tempat ini hingga dua puluh tahun lagi, mungkin
aku akan mati dalam keterpenjaraanku dengan dunia luar atau mati karena
ketepenjraanku atas hidupku yang tidak pernah percaya adanya Tuhan.
Hari
pertama itu aku sangat kesal harus di tempatkan di dalam penjara paling cadas
ini. Setelah sipir kekar itu mengunci penjaraku aku mulai mencari-cari cara
bagaimana agar bisa keluar dari ruangan mengerikan ini, penuh kegelapan tetapi
aneh rungannya terawat dan bersih.
Lampu
bercahaya remang remang, lebih dominan gelap di penjaraku ini, tiba-tiba untuk
pertamakalinya aku merasa takut, dan mulai percaya kalau mahluk halus yang
disebut hantu itu benar adanya, dari dalam gelap aku melihat bayangan sesosok
orang berjalan bukuk kearahku, pelan tetapi semakin jelas, aku mulai menjerit
meminta tolong, sepertinya aku akan mati lebih awal karena makluk ini.
Keringakut semakin deras bercucuran, aku belum pernah segemetar ini. Aku sudah
bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi, semakin dekat ke sumber
cahaya maka mulai terlihat bahwa sosok itu adalah ...
Satu
persatu pukulanku di tangkisnya tampaknya sosok ini bukan lawan sepadan
denganku, dia lebih ahli dari padaku. Akhirnya aku menyerah dan dia lalu duduk
di sampingku dengan tenang dan berkata :
“ salah satu
keberuntungan sesorang adalah sebum dia mati dia sudah bertaubat”
Aku tidak mengerti
apa yang dia katakan
"Meskipun kau
tak percaya dengan adanya Tuhan kau cukup percaya bahwa kau akan mati, cepat
atapun lambat, dan dengan begitu secara tidak langsung kau telah mempercayai
adanya Tuhan yang mengatur kehidupan mu"
Ada benarnya yang
dia katakan, tetapi aku tidak peduli.
"Dua puluh
tahun itu bukan waktu yang sebentar"
Aku terkejut
darimana dia mengetahui masa tahananku di penjara ini, siapa yang
memberitahunya.
"Sudahlah omong
kosong mu orang tua" keras sekali aku ucapkan, sosok itu bukan hantu bukan
pula malaikat pencabut nyawa tetapi seorang tua renta yang juga di kurung dalam
penjara ini, walaupun ruangan ini gelap tetapi bersih ternyata itu karena dia,
orang tua ini sangat bersih sekali dan tampaknya juga sangat taat
" Walaupun tak
kau pedulikan setidaknya pesan ini telah aku sampaikan, bahwa tuhan masih
menanti kau kembali kepada pitrahmu, bertobatlah, sebelum kau mati, wahai anak
muda"
Aku berdiri ingin
melanjutkan perkelahian lagi dengan orang tua ini " namaku..."
Ucapanku tepotong
"Muhammad Ali
atau Al-Qatraz" katanya
"Bagaiaman kau
mengetahui semua tentangku?"
"Kau tak perlu
takut, aku bukan malaikat maut mu, namaku Gahar, aku juga manusia sama
sepertimu, cuma tuhan telah mengkaromahkan aku kemampuan untuk dapat membaca
semua tentang dirimu, karomah itu hadiah dari sembah sujud ku dan tobatku yang
nasuha atau sungguh-sungguh kepada-Nya, mungkin hanya aku yang dapat
keistimewaan ini, lagi-lagi aku ingatkan Tuhan masih menginginkan tobatmu"
Aku terdiam masih
tidak percaya
"Kalau kau
memang bisa membaca tentang segala dalam diriku, sekarang kau sebutkan satu
saja kenangan manis dan paling pahit dalam hidupku"
"Baiklah,
tatapi sebelum itu aku minta kepadamu untuk memukulku tiga kali sekuat mungkin,
tetapi kau harus berjanji nanti kalau
kau marah kau cukup menahan marahmu dan jangan memukulku"
"Oke" aku
tidak mengerti apa maksudnya, tetapi aku yang sedari tadi kesal dan belum mampu
memukulnya, langsungku pelampiaskan sekuat-kuatnya tiga kali memukul orang tua
itu hingga pelipisnya berdarah dan terkapar, aku puas.
"Hidup dalam
ketaatkan dan selalu bersama Abahmu itu adalah kenangan manis mu"
Aku lagi-lagi
terkejut, sungguh ilmu apa yang dimiliki orang tua Gahar ini
" Dan kau masih
benci dengan ustadz Nur Hikam atas terbunuhnya Abahmu, kan?, itulah hal yang
pahit kau rasakan, tetapi kau tak lagi harus membenci ustad itu bahwa sejatinya
ustadz itu tidak berdosa, dialah yang mencoba menolong Abahmu, warga saja yang
menuduh kalau dia pembunuhnya padahal nyatanya tidak, sungguh bukan dia, dan
satu hal yang lebih mengejutkan kau juga harus tahu sekarang bahwa yang
membunuh Abah Mu Adam bin Husen itu adalah aku, hahah"
Aku sungguh terkejut
dan ingin langsung memukulnya.
"Tahan dan
bersabarlah, kau sudah berjanji"
Aku mengurungkan
niatku
Sipir kekar itu datang dan membawakan makanan, lalu aku
yang lapar langsung memakannya,
"Waekkk..., Makanan
apa ini!!"
"Tenang, bsok
kau akan makan enak, kau sangat ingin makan rendang daging asli buatan orang
Minang kan?"
Aku tidak
menghiraukannya, tetapi yang dia katakan itu benar
"Al-Qatraz,
gelar yang bagus, gelar itu jugalah yang kelak menjadi judul dalam karangan
ceritamu. Kau anak yang pintar, meskipun hanya selesai kelas 2 SD kau memiliki
kemampuan cepat dalam membaca dan
menulis yang bagus, dan jika kau ingin belajar ilmu agama ini ada buku
panduan untukmu" sambil menyodorkan buku
Aku juga tidak
mempedulikannya dan perlahan memasukan makan aneh ini kedalam mulut untuk di
kelola oleh perutku
Benar saja, besok
pagi aku makan enak bersama pak tua Gahar dengan lahap, tak berselang lama pak
Gahar di bawa oleh seorang sipir karena katanya ada yang menjenguknya. Maka
semenjak itu aku tidak lagi berjumpa pak Gahar hingga dua puluh tiga tahun
berselang, akupun perlahan mempelajari
kembali agamaku melalui buku yang di tinggalkan pak Gahar. Saat cerita ini
dibuat baru aku tahu yang menjenguk pak Gahar adalah malaikat maut, hari itu
dia di eksekusi mati.
Setelah
dua pulu tahun akhirnya aku di bebaskan, betapa senangnya aku dapat kembali
menghirup udara kebebesan, tetapi saat aku berada di luar penjara suasana
pekotaan terasa sepi serasa kota mati hanya ada beberapa orang yang lewat dan
memakai masker, ternyata di tahun 2020 sedang di landa pandemic virus covid-19
atau virus korona, disuasana dunia yang sedang tidak kondusif aku mencoba
mentaati peraturan pemerintah dan hanya sesekali pergi ke warnet yang secara
diam-diam masih di buka, maka disitulah aku menuliskan cerita ini yang aku beri
judul dengan Gelarku Al-Qatraz.

Komentar
Posting Komentar